Sabtu, 20 April 2013

Sukses WiraUsaha Tas 'GEMBOOL' , Dirintis Sejak Mahasiswa


Peluang WiraUsaha di bidang Fashion masih sangat menjanjikan, kesuksesan Vidia Chairunnisa (25) merupakan salah satu contoh. Ketika masih berkuliah di Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Vidia melihat peluang yang besar untuk berbisnis. Vidia melihat adanya kebutuhan teman-teman untuk tampil modis dengan modal bersahabat. Alhasil, tahun 2009 Vidia memberanikan diri berdagang tas-tas murah yang Vidia ambil dari Bandung. Tak disangka, ternyata laku keras! Vidia pun mulai coba-coba ikut pameran untuk meraup pasar yang lebih luas.

Karena terbatasnya desain tas yang Vidia beli jadi, setahun kemudian Vidia pun mulai membuat tas sendiri dengan label Tas Lutjuw. Vidia memodifikasi desain yang sudah ada dari majalah dan internet, lalu Vidia minta dibuatkan oleh perajin tas di Bogor. Vidiangnya, sistem jasa pembuatan barang ke pihak lain yang disebut makloon ini lemah dalam hal quality control pengerjaan. Vidia juga tidak bisa menetapkan material atau aksesori yang digunakan. Produk Vidia pun tak maksimal karena Vidia dipaksa membeli material berkualitas rendah yang telah mereka sediakan dengan finishing seadanya.

Tidak puas dengan hasilnya, akhirnya tahun lalu Vidia nekat membuat workshop sendiri dan mulai meluncurkan produk dengan label Gembool. Vidia pun mempekerjakan 50 wanita perajin di kampung Cihampea, Bogor, untuk membuat tas-tas yang kemudian Vidia beri label Gembool (baca: gembul). Ide nama ini datang dari konsep tasnya yang fun, warna-warni, dan terasa dekat dengan remaja. Kata gembul juga identik dengan banyak uang dan makmur. Harapannya, sih, rezeki bisa lancar.

Vidia sengaja membidik pasar remaja wanita karena lebih menguntungkan. Namanya juga anak ABG, biasanya centil, konsumtif, dan sering gonta-ganti tas yang dipadu-padankan dengan busananya.


Dalam riset pasar yang Vidia lakukan, remaja mencari produk yang trendi, tapi harganya murah, sesuai dengan daya beli mereka. Jadi, pemilihan bahan pun Vidia sesuaikan untuk menekan biaya produksi dan harga jual. Meskipun menggunakan material yang biasa,  Vidia meningkatkan kualitas produk lewat finishing yang rapi. Ini yang menjadi kekuatan Gembool. Produk Gembool yang handmade terjaga betul kerapian jahitan dan lemnya. Kami juga memberikan layanan garansi hingga setahun untuk reparasi gratis bila terjadi kerusakan.


Agar bisa kompetitif di pasar, Vidia berusaha terus update perkembangan tren. Misalnya saja, tren yang berkembang saat ini adalah model-model tas ala Korea, maka produksi tas Vidia banyak memodifikasi model-model ala Korea yang banyak bermain di warna-warna pastel, tabrak warna, dan animal printing.

Pasar remaja itu sensitif terhadap desain yang up to date, bervariasi, dan harga ketimbang kualitas material. Karena itu, Vidia harus bisa menyediakan barang-barang trendi yang murah meriah. Karena remaja suka warna-warna ngejreng, Vidia pun menyediakan banyak pilihan warna. Untuk  tiap desain tas tersedia 8-10 pilihan warna, sedangkan untuk dompet maksimal diproduksi 15 warna yang berbeda. Tiap dua bulan sekali Vidia mengeluarkan 2-3 model baru
Memaksimalkan Jaringan Reseller
Dalam seminggu, Vidia bisa memproduksi 10 lusin tas dan 25 lusin dompet (termasuk sarung ponsel dan organizer). Harga dompet antara Rp45.000-Rp115.000, sedangkan tas Rp125.000-Rp179.000.

Untuk pemasaran, Vidia bekerja sama dengan banyak toko online besar, seperti lazada, zalora, blibli. Selain itu, Vidia memiliki sekitar 50 reseller yang tersebar di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga ke negeri jiran.

Kebanyakan resellers ini menjual kembali produk Vidia lewat media sosial dan toko online mereka dengan sistem drop shipping. Tidak ada syarat minimum order bagi reseller untuk mendapat potongan harga sebesar 15% per unit. Ada juga reseller yang rutin membeli minimum Rp5 juta sekali order. Biasanya, mereka akan menjual produk Vidia di toko offline mereka. Untuk membantu penjualan para reseller, Vidia menyediakan katalog produk. Dengan perpanjangan tangan seperti ini, Vidia berhasil meraup omzet rata-rata Rp200 juta - Rp250 juta per bulan.

Setelah berhasil dengan lini remaja, Vidia mulai terpikir mengembangkan Vidiap dengan menyasar wanita dewasa di bawah label Bagtitude,  sejak November lalu. Pilihan warnanya lebih konservatif, yaitu cokelat, hitam atau ivory dengan penggunaan material yang lebih baik. Harga jualnya pun lebih tinggi, yaitu minimal Rp350.000.















Jumat, 28 Desember 2012

Office Boy jadi Vice Presiden..? Simak perjalanan Houtman Zainal Arifin


 Pengalaman hidupnya yang amat inspiratif patut untuk disimak, yang awalnya ia hanya seorang office boy hingga bisa menduduki jabatan nomor satu sebagai seorang Vice President Citibank. Sekarang beliau berkerja sebagai direksi di perusahaan swasta, pengawas keuangan di beberapa perusahaan swasta, komite audit BUMN, konsultan, penulis serta dosen pasca sarjana di sebuah Universitas. 

Houtman Zainal Arifin dilahirkan pada tanggal 27 Juli 1950 di Kota Kediri Jawa Timur. Beliau dilahirkan dari keluarga pas-pasan. Kisah hidup beliau dimulai ketika lulus dari SMA, Hotman merantau ke Jakarta dan tinggal di daerah Kampung Bali dari tahun 1951-1974, Houtman membawa mimpi di Jakarta untuk hidup berkecukupan dan menjadi orang sukses di Ibukota, namun apa daya Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh.


Sewaktu tinggal di tanah abang, ayah beliau sakit keras. Orang tuanya ingin berobat, tetapi tidak mempunyai biaya yang cukup. Melihat keadaan seperti itu, beliau tidak mau menyerah. Dengan bermodal hanya Rp 2.000,- hasil pinjaman dari temannya, beliau menjadi pedagang asongan menjajakan perhiasan imitasi dari jalan raya hingga ke kolong jembatan mengarungi kerasnya kehidupan ibukota. Usaha dagangannya kemudian laku keras, namun ketika ia sudah menuai hasil dari usahanya, ternyata Tuhan memberinya cobaan, ketika petugas penertiban datang, dagangannya di injak hingga jatuh ke lumpur. Ketika semua dagangan beliau sudah rusak bercampur lumpur, ternyata teman-temannya yang dari kawula rendah seperti tukang sepatu, tukang sayur, dan lain-lain, beramai-ramai membersihkan dagangan beliau. Disini beliau mulai mendapatkan pengalaman berharga tentang kerasnya kehidupan Ibukota.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya. Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja. 

Sampai di rumah, beliau melihat ada orang gila wara-wiri di sekitar rumah beliau. Orang gila itu hampir nggak pake baju. Beliau pada saat itu cuma punya baju 3 pasang. Hebatnya, beliau ikhlas memberi ke orang gila itu sepasang baju plus sabun plus sisir. Tuhan memang Maha Adil, Pada hari ketiga setelah kejadian tersebut, Tiba-tiba datang surat yang menyatakan bila beliau diterima menjadi OB disebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.




Waktu jadi OB, beliau melihat training. Karena jabatan beliau hanya OB, beliau tentu tidak dianggap. Bahasa Inggris beliau pun cuma sekedar yes-no. Tapi beliau berprinsip, “Saya harus berbuat. Saya harus pintar.” Setiap hari selama training itu, beliau ada di depan pintu dan mencatat semuanya. Training officer-nya lama-lama jadi menyuruh beliau masuk (tapi secara kasar). Si training officer mengumumkan pada para trainer, “Pengumuman, dia tidak terdaftar dan dia tidak akan diuji,” kata training officer. Mendengarnya, Houtman tidak terima. Dia sudah berada di ruangan yang sama berarti dia sudah menjadi salah satu trainer juga dan juga harus diuji.

Pak Houtman lalu menantang diri beliau sendiri, “Saya harus lulus!” batin beliau. Padahal saingan beliau adalah lulusan UI, Michigan, Ohio, ITB dan banyak universitas TOP lainnya. Sementara beliau, SMA bisa lulus aja udah untung. “Pokoknya harus lulus dan gak boleh jadi yang terakir,” tekad beliau. Tuhan memang Maha Besar, dari 34 orang beliau termasuk 4 besar dan beliau pada tahun 1978 dikirim ke Eropa.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi

Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggung jawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. 

Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA. Kemudian ia pun di angkat menjadi pegawai di bank Citibank tersebut, Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.





Sekitar 19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman kemudian mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak Citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi Citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia. Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang.

Pelajaran yang dapat dipetik adalah kita tidak akan pernah kekurangan apa bila kita mau saling memberi, jika kita mau bersilaturahmi dan banyak berteman dengan siapa saja kita akan mendapatkan rezeki yang lebih banyak, dan jika kita iklash memberi Allah swt pasti akan memberikan kita sesuatu yang lebih.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...